DaerahOpini

Medsos dan Keterasingan Memasuki Usia 60 Tahun

×

Medsos dan Keterasingan Memasuki Usia 60 Tahun

Sebarkan artikel ini

Sekilasindonesia.id, || SERANG – M. Ishom El Saha Pengasuh Ponpes Qod Atta Kota Serang

“Pak, Bu! Kalau tetap minta umur panjang, apa masih punya partner untuk ngobrol ngalor-ngidul?” Tanyaku bercanda kepada orang-orang tua yang sudah memasuki usia 60 tahun. Rupanya mereka susah juga menjawab pertanyaan sederhana itu karena realitasnya sudah banyak teman-teman seusia mereka yang telah tiada.

Click Here

Apalagi pensiunan yang sewaktu masih produktif jarang bergaul dengan tetangganya. Waktunya mereka pensiun mau mencari teman bicara, mereka tak punya siapa-siapa. Keinginan mereka bergabung dengan orang-orang yang lebih muda usianya terbendung rasa enak tidak enak dan canggung.

“Sewaktu jaya asing dengan kita, sekarang sudah tua pinginnya ditemani dan didengarkan kita”: demikian ujar para tetangga. Pada akhirnya para orang tua ini pun memilih bergaul secara virtual dan ber-medsos menggunakan gawai.

Secara psikologis orang yang sudah memasuki usia 60 tahun cenderung ingin lebih diperhatikan dan didengarkan. Baik itu karena keinginannya untuk dibantu ataupun karena logika klasiknya bahwa orang tua lebih banyak makan asam dan garam sehingga perlu didengarkan dan diikuti.

Tapi sayangnya orang-orang yang lebih muda usianya yang diajak bergaul dan bicara persepsinya tidak sama, karena perubahan jaman. Fenomena ini tentu saja sangat menarik untuk diperhatikan oleh kita semua, sebab pada saatnya kita juga akan hidup menua.

Sebagai gantinya, kalau kita perhatikan di sekitar kita, banyak orang tua yang setiap harinya memegang gawai untuk mengisi kekosongan waktu di masa tua. Mereka ikut ber-medsos ria, adakalanya hanya pasif memperhatikan dan adakalanya aktif mengirim ulang berita dan gambar yang diterimanya maupun membuat postingan pribadinya. Pada intinya mereka ingin kesibukan untuk mengisi waktunya yang lebih banyak kosong dari aktivitas harian.

Hanya yang kadang-kadang aneh mereka ikut larut ber-medsos ala anak-anak muda. Mereka terkadang melakukan sesuatu yang tidak layak untuk seusianya. Mereka ingin nimbrung berbicara tentang sesuatu yang oleh lawan bicaranya dianggap sudah tidak lagi sesuai jamannya.

Tua-tua masih memikirkan bagaimana caranya viral supaya didengarkan dan diperlihatkan. Memang repot juga jadi orang tua yang memasuki usia senja.

Oleh sebab itu, beruntunglah para orang tua yang ketika mendekati pensiun sudah berbaiat tarikat atau setidak tidaknya mengamalkan tasawuf. Kekosongan waktunya lebih banyak digunakan wirid dan dzikir. Bukan hp alat gawai mereka tapi tasbih yang selalu menemani hidup mereka.

Bagindo Yakub.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *