MAKASSAR – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Makassar (UNM) melaksanakan pelatihan smart farming berbasis Internet of Things (IoT) bagi alumni Jurusan Geografi pada Selasa, 25 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gedung B Jurusan Geografi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar (FMIPA UNM), tersebut memperkenalkan teknologi monitoring kelembapan tanah dan kontrol pompa otomatis.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim yang diketuai Nurul Afdal Haris dengan anggota Uca, Galih Citra Yogyanti, dengan Pemateri tambahan Muhammad Syukron. Tim pelaksana mengembangkan kegiatan tersebut sebagai upaya meningkatkan literasi teknologi sekaligus memperkenalkan citra pertanian modern kepada alumni perguruan tinggi.
Pelatihan diikuti oleh 20 peserta yang seluruhnya merupakan alumni Jurusan Geografi. Kegiatan dirancang untuk mengubah pandangan terhadap aktivitas berkebun yang selama ini masih sering dianggap sebagai pekerjaan konvensional, kurang menarik, dan tidak sesuai dengan citra lulusan perguruan tinggi.
Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh penjelasan mengenai konsep smart farming, cara kerja sensor kelembapan tanah, mikrokontroler, relay, pompa air, dan dashboard monitoring. Peserta juga diperkenalkan pada mekanisme pengaturan ambang kelembapan yang memungkinkan pompa menyala dan berhenti secara otomatis berdasarkan kondisi media tanam.
Melalui dashboard, peserta dapat memantau nilai kelembapan tanah dan status perangkat secara langsung. Sistem tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan berkebun tidak hanya mengandalkan pengamatan dan penyiraman manual, tetapi dapat dilakukan dengan dukungan sensor, jaringan internet, visualisasi data, dan otomatisasi.
Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa 17 dari 20 peserta atau 85 persen mengalami perubahan pola pikir positif terhadap kegiatan berkebun setelah memahami penerapan smart farming. Peserta mulai memandang pertanian sebagai bidang yang modern, inovatif, dan memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan teknologi digital.
Seluruh peserta juga menunjukkan keterbukaan terhadap pemanfaatan teknologi dalam kegiatan pertanian. Mereka menerima IoT sebagai sarana yang dapat mempermudah monitoring dan pengelolaan tanaman. Pemahaman terhadap penggunaan teknologi tersebut turut mengurangi rasa gengsi dan keraguan peserta untuk mulai berkebun.
Ketua tim pelaksana, Nurul Afdal Haris, berharap pelatihan ini dapat mendorong alumni Geografi untuk melihat pertanian sebagai bidang yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Melalui pengenalan smart farming, kami berharap alumni Geografi tidak lagi memandang berkebun sebagai kegiatan yang kuno atau kurang bergengsi. Berkebun dapat dikelola secara modern, terukur, dan berbasis data. Teknologi IoT juga dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mulai berkebun dengan lebih percaya diri,” harap Nurul Afdal Haris.
Ia juga berharap para peserta tidak berhenti pada tahap memahami cara kerja perangkat. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat dikembangkan menjadi inovasi yang menghubungkan teknologi IoT dengan kompetensi keilmuan Geografi.
Latar belakang keilmuan Geografi dinilai memiliki relevansi kuat dengan pengembangan smart farming. Alumni Geografi memiliki dasar pengetahuan mengenai lingkungan, tanah, iklim, wilayah, pemetaan, Sistem Informasi Geografis (SIG), dan penginderaan jauh. Kompetensi tersebut dapat dipadukan dengan data sensor IoT untuk mendukung pemantauan kondisi lahan dan pengambilan keputusan pertanian secara lebih akurat.
Nurul Afdal Haris bersama anggota tim, yakni Uca, Galih Citra Yogyanti, dan Muhammad Syukron, melihat adanya peluang untuk mengembangkan sistem tersebut melalui integrasi IoT, SIG, dan penginderaan jauh. Data yang dikumpulkan sensor dapat divisualisasikan secara spasial sehingga kondisi kelembapan, kebutuhan air, dan karakteristik lahan dapat dianalisis berdasarkan lokasi.
Integrasi teknologi tersebut membuka peluang bagi alumni Geografi untuk terlibat dalam pertanian presisi dan pengelolaan sumber daya berbasis data geospasial. Alumni tidak hanya berperan sebagai pengguna teknologi, tetapi juga berpotensi menjadi pengembang solusi pertanian yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan karakteristik wilayah.
Pelatihan ini menunjukkan bahwa pengenalan teknologi secara langsung dan kontekstual dapat membantu membangun citra baru mengenai kegiatan pertanian. Berkebun tidak lagi dipandang semata-mata sebagai aktivitas konvensional, tetapi sebagai kegiatan produktif yang dapat dikelola menggunakan teknologi digital.
Tim pelaksana berharap kegiatan serupa dapat dilanjutkan melalui pendampingan, pengembangan perangkat, dan penerapan sistem pada lahan percontohan. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh peserta dapat berkembang menjadi praktik nyata dan mendorong keterlibatan generasi muda dalam transformasi pertanian yang lebih cerdas dan berkelanjutan.











