Sekilasindonesia.id SRAGEN — Sekolah Rakyat seperti memutus rantai penderitaan Rafika Nur Khasanah (16 tahun). Sempat hampir putus sekolah karena ayah meninggal dan ibu meninggalkannya, secercah harapan itu datang dari Sekolah Rakyat.
“Saya cuma ikut Mbah (kakek dan nenek). Ayah saya meninggal sejak saya umur 8 tahun. Ibu merantau,” kenang Rafika, siswi kelas 10, ditemui di Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen, Jawa Tengah.
Titik terendah Rafika adalah saat akan lulus SMP. Saat itu, ibunya sudah meninggalkan dia untuk merantau. Selama merantau, Rafika tak pernah dikirimi uang. Adapun kakek dan nenek yang menjaganya tak bisa optimal bekerja karena kondisi fisik yang lemah.
Rafika bercerita kakeknya sudah tidak bisa bekerja karena menderita penyakit gula. Untuk bisa berjalan pun sudah kesulitan. Sedangkan neneknya bekerja sebagai buruh tani sekadar untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
“Saya dikasih uang itu cuma Rp10 ribu karena tidak punya uang,” kata Rafika.
Di titik ini, Sekolah Rakyat seperti sampan yang menyelamatkan dia dari risiko tenggelam. Sampan ini pula yang membawa dia untuk bisa menuju cita-citanya.
“Karena Sekolah Rakyat, saya bisa melanjutkan sekolah dan dapatkan cita-cita saya,” kata Rafika.
Kini, di Sekolah Rakyat, Rafika bisa fokus untuk belajar tanpa perlu memikirkan harus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di Sekolah Rakyat, dia sudah mendapatkan keperluan sekolah seperti alat tulis, seragam, sepatu, sampai kerudung.
Untuk kebutuhan makan pun, Sekolah Rakyat sudah menyediakan. Dia mendapatkan makan tiga kali sehari dan asupan makanan kecil dua kali sehari.
Dan yang menyenangkan baginya adalah dia bisa fokus untuk mempelajari seni yang menjadi salah satu kesukaannya. “Saya pengen ke Jepang,” ujar dia.
Kecewakah dengan sang ibu yang meninggalkannya? Rafika justru merasa kangen. Dia ingin tahu kabar ibunya. Andai bisa bertemu lagi dengan ibunya, Rafika justru ingin mencurahkan hatinya.
“Aku ingin menyampaikan kalau aku sayang ibu. Aku cuma punya ibu. Ayah sudah gak ada. Jadi, ibu tolong ngertiin aku,” kata dia.
Kartini (67 tahun), nenek Rafika, bersyukur cucunya bisa bersekolah di Sekolah Rakyat. Kartini sudah mengasuh Rafika sejak masih kelas 5 SD.
“Dia itu anak pintar. Rafika bahkan mengurusi kakeknya yang sakit,” kata Kartini haru ditemui di rumahnya di Dusun Gayam, Desa Duyungan, Kecamatan Sidoharjo, Sragen.
Bagindo Yakub.











