OPINI – Ada beberapa pejabat pemerintahan yang harus siap untuk ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia dan bahkan harus mengalami tour of duty di berbagai wilayah sepanjang kariernya. Mereka adalah perwira polisi dan tentara, pejabat imigrasi, hakim, jaksa, pegawai pajak, dan sebagainya. Jika ditanya, apakah senang kalau ditempatkan di kampung halaman masing-masing? Sebagian besar pejabat yang pernah saya tanya jawabannya adalah “kalau bisa jangan.” Kenapa? Karena mereka harus berhadapan dengan keluarga sendiri, dengan kawan sepermainan, dan handai taulan yang lain.
Berhadapan dengan keluarga sendiri, teman dan orang-orang dekat ketika sedang menjabat merupakan tantangan tersendiri. Banyak dari mereka yang akan meminta berbagai pertolongan dan rekomendasi, meminta untuk melakukan intervensi dengan kekuasaan yang dimilikinya, menjual-jual nama dengan modal kedekatan untuk kepentingan pribadi dan sebagainya. Sebaliknya ketika harus menggunakan kekuasaannya, akan ada yang meminta pengecualian dan keringanan, pengampunan dan dispensasi atas nama kekeluargaan atau perkawanan. Itulah sebabnya banyak pejabat yang lebih memilih untuk bertugas di “kampung orang” ketimbang di “kampung sendiri.” Nanti kalau sudah pensiun barulah kembali menikmati hari tua di kampung halaman.
Yang hebat adalah, Jenderal Mas Guntur Laupe (Jenderal MGL) ini dua kali bertugas di kampung halaman, dan lulus ujian. Yang pertama sebagai Wakapolda Sulsel, dan kemudian sebagai Kapolda Sulsel. Dia tidak kapok, dan tetap bisa menjaga integritasnya sebagai pejabat. Walaupun saya tinggal di Jakarta, tetapi terus mengikuti berita-berita kampung halaman. Yang saya tangkap adalah, semua orang merindukan sosok pemimpin dalam arti umum, serta pemimpin kepolisian khususnya seperti yang ada pada sosok Jenderal MGL. Ketika dia selesai bertugas sebagai Wakapolda orang banyak di Sulsel berharap dia kembali lagi sebagai Kapolda. Ketika benar dia kembali sebagai Kapolda, masyarakat bersukacita. Ketika akhirnya dia selesai menjalankan jabatannya, orang banyak bersedih, “kapan lagi kita bisa punya pejabat seperti Jenderal MGL?”
Orang merasa kehilangan karena sudah lama rakyat Sulsel merindukan sosok yang tegas, penuh integritas, tetapi mengerti dan mengayomi rakyatnya. Menghadapi orang Sulsel tidak bisa hanya sekedar tegas dan keras, tapi harus juga tulus, adil dan merakyat. Jenderal MGL inilah mungkin satu-satu Kapolda yang saya kenal (dan saya kenal banyak Kapolda) yang ikut aktif dalam WA Group warganya, dan bahkan membalas dan “ikut nimbrung” dalam percakapan di WA Group tersebut, baik yang serius maupun yang bercanda. Dan HP-nya dipegang sendiri dan pertanyaan-pertanyaan warga masyarakat dijawab sendiri dengan otentik. Dengan begitu, dia bisa memonitor isu-isu yang berkembang dalam masyarakat, sekaligus menjalin silaturrahim dan komunikasi dengan berbagai kalangan masyarakat. Dia mengutamakan pendekatan preventif, ketimbang menjadi pemadam kebakaran ketika persoalan terlanjur menjadi besar dan membakar. Memang itu pulalah esensi dari community policing, yang dijalankan dengan baik oleh Jenderal MGL.
Syaratnya memang harus sabar dan mengayomi. Dan itu dia punya. Ditambah kesederhanaan dan pekerja keras. Tapi jangan sangka dia tidak bisa tegas kepada siapapun jika itu yang harus dilakukan. Karena itulah sosoknya akan dirindukan di Sulsel. Bahkan, menjadi standar atau model sosok Kapolda yang didambakan oleh masyarakat Sulsel. Lebih jauh lagi, menjadi sosok pemimpin yang dirindukan oleh masyarakat Sulsel.
Saya berharap pensiun dari kepolisian bukanlah akhir karier Jenderal MGL. Mudah-mudahan hal ini justru membuka kesempatan untuk berkiprah dan berkontribusi di bidang yang lebih luas lagi. Bagi saya, dia masih masih muda, sehat, dan energik. Siapa tahu dia masih bisa pulang kampung sekali lagi untuk pengabdian yang lebih besar, kepada bangsa dan negara, khususnya kepada rakyat Sulawesi Selatan.
Selamat purna tugas di Kepolisian Jenderal. Selamat datang untuk pengabdian yang lebih besar. Semoga masih bisa pulang kampung sekali lagi. Rakyat Sulawesi Selatan, bukan hanya Parepare, menantimu dan merindukanmu.
Penulis : Andi A. Mallarangeng











