BeritaDaerah

Orang Tua Siswa SD di Maros Keberatan Anaknya Dipindahkan Tanpa Sepengetahuannya, Rencana Laporkan Sekolah ke Dinas Pendidikan

×

Orang Tua Siswa SD di Maros Keberatan Anaknya Dipindahkan Tanpa Sepengetahuannya, Rencana Laporkan Sekolah ke Dinas Pendidikan

Sebarkan artikel ini

SEKILAS INDONESIA, MAROS, Rabu, 30 Oktober 2024 — Seorang warga Kabupaten Maros, Saharuddin Daeng Nanring (43 th), menyampaikan keberatannya atas tindakan pihak Sekolah SD 154 Inpres Tumalia, Kecamatan Turikale Kabupaten Maros yang dianggapnya tidak menghormati posisinya sebagai orang tua. Saharuddin mengaku kecewa karena keputusan kepala sekolah dan wali kelas untuk memindahkan anak-anaknya, Nurhidayat dan Aswad, ke salah satu sekolah di Kabupaten Takalar dilakukan tanpa sepengetahuannya.

Menurut keterangan Saharuddin, anak-anaknya tiba-tiba dipindahkan tanpa konsultasi atau pemberitahuan kepadanya. Ia merasa haknya sebagai ayah telah dilanggar, mengingat ia memegang hak asuh penuh atas anak-anaknya sejak berpisah dengan istrinya. “Keputusan ini sangat tidak menghargai saya sebagai orang tua yang seharusnya diberi tahu lebih dulu,” ungkap Saharuddin.

Click Here

Saharuddin menegaskan bahwa ia tidak pernah memberikan persetujuan atau tanda tangan atas pemindahan kedua anaknya tersebut. Ia merasa bahwa keputusan ini menunjukkan kurangnya transparansi dan komunikasi dari pihak sekolah. “Bagaimana mungkin anak-anak dipindahkan begitu saja tanpa ada diskusi dengan saya?” tambahnya dengan nada kesal.

Langkah yang diambil oleh pihak sekolah ini dinilai Saharuddin sebagai tindakan yang merugikan psikologis anak-anaknya, yang tiba-tiba harus beradaptasi dengan lingkungan baru. “Saya khawatir anak-anak saya merasa bingung dan terganggu secara emosional dengan perubahan ini,” ujarnya. Ia menilai bahwa keputusan ini bisa berdampak pada proses belajar dan kenyamanan anak-anak di sekolah.

Merasa tidak puas dengan cara sekolah menangani kasus ini, Saharuddin berencana melaporkan kejadian tersebut ke Dinas Pendidikan Kabupaten Maros. Ia berharap dinas dapat menindaklanjuti keluhan ini dan mengambil langkah tegas terhadap pihak sekolah yang dianggap tidak menghargai hak orang tua. “Saya ingin keadilan untuk anak-anak saya,” tegasnya.

Selain itu, Saharuddin juga berharap agar kejadian serupa tidak terulang lagi, baik bagi anaknya maupun siswa lain di sekolah tersebut. Ia menyerukan agar setiap pengambilan keputusan terkait pendidikan dan kesejahteraan siswa harus melibatkan orang tua sebagai pemegang hak asuh utama.

Saat berita ini ditulis, pihak SD 154 Inpres Tumalia belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan dari Saharuddin Daeng Nanring. Masyarakat berharap ada transparansi lebih lanjut dalam proses pengambilan keputusan di sekolah demi menghindari konflik yang bisa merugikan siswa dan orang tua.

 

Suherman Tangngaji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *