Berita

Segalon Air Harus Dibayar dengan Keringat dan Nyali, Warga Nangka Bubur Menjerit di Tengah Kekeringan

×

Segalon Air Harus Dibayar dengan Keringat dan Nyali, Warga Nangka Bubur Menjerit di Tengah Kekeringan

Sebarkan artikel ini

Sekilasindonesia.id SERANG — Bagi sebagian orang, mendapatkan air bersih mungkin hanya soal membuka keran, namun bagi warga Kampung Nangka Bubur, Desa Kedungsoka, Kecamatan Pulo Ampel, Kabupaten Serang, Banten, mendapatkan segalon air justru menjadi perjuangan yang menguras tenaga, waktu, bahkan nyali.

Musim kemarau seolah menjadi mimpi buruk yang datang berulang setiap tahun.

Click Here

Lima sumur umum yang selama ini menjadi tumpuan warga kini mengering.

Pompa air yang biasanya menjadi penyelamat kebutuhan rumah tangga pun tak lagi mengeluarkan air.

Warga menyebut kondisi tersebut telah berlangsung lebih dari tiga bulan.

Sudah lebih dari tiga bulan sumur di rumah maupun di tempat umum tidak keluar air.

“Kami terpaksa harus mencari air ke tempat yang jauh, padahal kebutuhan air itu setiap hari ada,” ungkap Mad Misan, warga Kampung Nangka Bubur.

Air Mengering, Perjuangan Justru Dimulai
Ketika air di kampung sendiri tak lagi tersedia, warga harus turun ke wilayah yang lebih rendah untuk mencari sumber air.

Jaraknya tidak main-main, mulai sekitar 600 meter hingga mencapai 3 kilometer.

Sebagian warga bahkan harus menuju Kampung Sumur Lubang untuk mengisi jerigen.
Namun mendapatkan air bukan akhir dari persoalan.

Setelah jerigen penuh, warga harus kembali menuju kampung yang berada di dataran tinggi dengan membawa beban air melewati jalan yang curam.

Bagi warga Nangka Bubur, air bersih bukan sekadar kebutuhan—air adalah sesuatu yang harus diperjuangkan.

“Warga harus turun ke bawah mencari sumber air, setelah mendapatkan air, kami harus kembali naik ke kampung dengan membawa jerigen penuh,” kata Mad Misan.

Lebih memprihatinkan, akses jalan yang dilalui warga juga bukan jalan yang mudah.

Jalur menuju kampung disebut hanya memiliki lebar sekitar satu meter dengan kontur pegunungan yang curam dan berkelok.

Di salah satu sisi terdapat jurang terjal, sepeda motor yang membawa jerigen air pun harus melaju perlahan dan ekstra hati-hati.

Salah Sedikit, Nyawa Taruhannya
Kondisi jalan tersebut membuat perjalanan mencari air bukan hanya melelahkan, tetapi juga memiliki risiko keselamatan.

Pria, perempuan, anak-anak hingga lansia ikut merasakan beratnya perjuangan tersebut.

Jerigen air diangkut menggunakan sepeda motor, dipikul di pundak, bahkan dibawa dengan berjalan kaki.

Di bawah teriknya matahari, warga harus memilih : tetap bertahan tanpa air atau menempuh perjalanan berbahaya demi memenuhi kebutuhan dasar keluarga.

“Keringat yang menetes saat mengangkut air kadang lebih banyak daripada air yang dibawa pulang,” keluhnya.

Kondisi ini juga membuat aktivitas rumah tangga terganggu. Bahkan untuk mencuci piring, warga harus pergi ke kampung lain.

“Mencuci piring saja harus ke kampung lain, dirumah tidak keluar air dari pompa jadi mengambil air dari kampung lain walaupun jauh, ya bagaimana lagi? Kami butuh air,” ujar Mad Misan.

Bukan Sekadar Kemarau, Warga Menagih Solusi
Warga menilai persoalan yang mereka hadapi bukan sekadar masalah musim kemarau.

Kekeringan memang datang setiap tahun, tetapi hingga kini belum ada solusi permanen yang benar-benar mampu menjawab kebutuhan air masyarakat di kampung tersebut.

Sumur bor dengan kedalaman memadai, penampungan air hujan, jaringan air bersih hingga distribusi bantuan air secara rutin menjadi harapan warga.

Namun ada persoalan lain yang tak kalah pelik : akses jalan, menurut warga hingga kini kendaraan roda tiga maupun roda empat sulit masuk ke Kampung Nangka Bubur.

“Setiap tahun kami menghadapi kondisi yang sangat sulit bukan hanya kekeringan air bersih, tetapi akses jalan juga tidak memadai, jangankan mobil, becak bahkan gerobak pun sulit masuk ke kampung ini,” imbuh Mad Misan.

Kondisi tersebut membuat persoalan air bersih semakin berat, ketika bantuan air datang, akses yang sulit menjadi tantangan tersendiri dan etika bantuan tidak datang, warga kembali harus berjibaku mencari air sendiri.

Warga Nangka Bubur Tak Ingin Hanya Didengar Saat Musim Kemarau dan Warga berharap pemerintah tidak sekadar datang ketika kekeringan sudah menjadi sorotan.

Mereka menginginkan langkah nyata dan solusi jangka panjang agar setiap musim kemarau tidak lagi menjadi siklus penderitaan yang harus mereka jalani.

Kami berharap kepada pemerintah segera turun tangan dan bergerak cepat untuk memperhatikan kondisi kami.

“Bangun sumur bor yang lebih dalam, salurkan bantuan air bersih secara rutin saat kemarau, dan cari solusi permanen, terutama membangun akses yang memadai,” pungkas Mad Misan.

Bagindo Yakub.