Sekilasindonesia.id TANGERANG — Perbaikan Jalan Raya Cisoka-Cangkudu, Kabupaten Tangerang, Banten, kembali dikeluhkan warga.
Proyek yang tengah dikerjakan Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMDSDA) Kabupaten Tangerang tersebut menyebabkan arus lalu lintas tersendat, terutama pada pagi dan sore hari saat jam berangkat maupun pulang kerja.
Pantauan di lokasi, Rabu (26/8/2026) pagi, kendaraan roda dua dan roda empat dari arah Cisoka menuju Cangkudu maupun sebaliknya harus melaju secara perlahan.
Kemacetan terjadi lantaran sebagian badan jalan dibongkar untuk proses perbaikan sehingga kendaraan hanya dapat menggunakan satu jalur.
Kondisi tersebut semakin terasa pada jam sibuk ketika aktivitas masyarakat meningkat.
Warga yang berada di sekitar lokasi proyek bahkan turut membantu mengurai kepadatan lalu lintas agar kendaraan tetap dapat melintas.
Engkus, warga Banoga, Cisoka, yang tempat usahanya berada tepat di depan lokasi pembongkaran jalan, mengaku kecewa karena menurutnya persoalan drainase belum menjadi perhatian utama.
Jalan tiap tahun diperbaiki, got sudah lama tidak diperbaiki, kalau got tidak diperbaiki, percuma jalan diperbaiki karena tetap saja rusak.
Di sini selokan airnya ke jalan semua. Kalau hujan sering banjir karena got mampet dan rusak.
“Menurut saya, gotnya dulu diperbaiki kalau jalannya masih bagus,” ujar Engkus.
Selain kemacetan, Engkus mengaku aktivitas proyek turut berdampak terhadap usahanya.
Sejak jalan dibongkar, jumlah pembeli disebut mengalami penurunan drastis sehingga penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga ikut terganggu.
Usaha saya terhambat akibat adanya perbaikan jalan penjualan turun drastis, terus kadang jalan sering macet, pihak pemborong pun tidak ada yang datang ngomong ke warga, tahu-tahu dibongkar saja jalannya.
“Harusnya bilang dulu ke warga kalau mau ada perbaikan,” tambahnya.
Keluhan serupa disampaikan Abenk, warga Kampung Cilaban. ia menilai perbaikan jalan seharusnya dibarengi dengan pembenahan sistem drainase agar kerusakan jalan tidak kembali terjadi akibat genangan air.
“Harusnya got dibenerin dulu baru jalan, masalahnya kalau jalan dibenerin, got tidak dibenerin, percuma saja air masih ke jalan semua, ujung-ujungnya rusak lagi,” kata Abenk.
Abenk juga menyoroti pengaturan lalu lintas di sekitar proyek. Menurutnya, warga secara sukarela membantu mengurai kemacetan karena tidak terlihat adanya petugas pengatur kendaraan yang disiapkan pihak pelaksana proyek.
Kami warga sukarela membantu mengurai kemacetan, harusnya pihak pemborong mengerti dan datang ke warga untuk izin dulu.
“Mereka juga tidak menyiapkan tukang parkir. Kalau tidak ada kami sebagai warga, jalan pasti macet terus,” ungkapnya.
Ia mengatakan kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan, terutama pada pagi hari ketika masyarakat berangkat bekerja dan anak-anak pergi ke sekolah.
Apalagi pagi, banyak yang berangkat kerja dan anak-anak sekolah. Mereka bisa kesiangan.
Dari mulai pembongkaran sampai sekarang pihak pemborong tidak ada yang datang.
“Harusnya mereka mengerti karena sudah dibantu warga,” ujarnya.
Abenk juga meminta perhatian terhadap aspek keselamatan warga yang membantu mengatur lalu lintas pada malam hari.
Minimnya penerangan di sekitar lokasi proyek dinilai dapat membahayakan warga maupun pengguna jalan.
“Yang kami khawatirkan saat malam hari ketika membantu mengatur kendaraan, lampu penerangan juga tidak ada,” katanya.
Warga berharap pelaksanaan proyek perbaikan Jalan Raya Cisoka-Cangkudu tidak hanya berorientasi pada perbaikan badan jalan, tetapi juga memperhatikan drainase, keselamatan pengguna jalan, pengaturan lalu lintas serta komunikasi dengan masyarakat sekitar.
“Warga juga berharap pihak pelaksana proyek maupun instansi terkait segera mengambil langkah untuk mengurangi dampak kemacetan dan memastikan pekerjaan berjalan dengan aman serta tidak kembali menimbulkan persoalan serupa di kemudian hari,” harap warga.
Bagindo Yakub.











