PANDEGLANG – Kusroni, warga Desa Ujungjaya, Kecamatan Sumur mengakui bahwa bangunan Pusat Pendidikan Konservasi Berbasis Masyarakat (PPKBM), di area kawasan Taman Nasional Ujungkulon, terkesan terbengkalai dan tidak terawat, Selasa (14/07/2020).
Disampaikan bahwa, bangunan tersebut bersumber dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dari Kementerian Keuangan tahun 2019 yang digunakan untuk membangun berbagai fasilitas Pusat Pendidikan Konservasi berbasis masyarakat di wilayah Resort Legon pakis.
Guna mendukung kegiatan ekowisata, fasilitas tersebut digadang-gadang akan dikelola oleh masyarakat sekitar.
Hal itu berdasar pada MoU yang telah ditandatangani oleh Balai Taman Nasional Ujungkulon dan Masyarakat, dengan disaksikan oleh Bupati Pandeglang pada Februari 2020 pada saat kegiatan peresmian.
Berdasarkan pantauan di lokasi, Kondisi bangunan tersebut tampak terlihat tidak terawat, onggokan bangunan yang tersebar kurang lebih dilahan seluas 30 hektare tersebut, kini nampak seperti bangunan yang tak berfungsi, bahkan dari beberapa item bangunan mulai nampak rusak.
Kata Kusroni, kondisi ini sangat ironis, pasalnya bangunan tersebut baru saja beberapa bulan lalu selesai dan diresmikan, namun kini kondisinya sudah mengalami kerusakan seperti bangunan paving block, lisplang, bahkan beberapa lantai sudah mulai terkelupas, dan semua halaman bangunan dipenuhi dengan rerumputan.
“Warga merasa kebingungan atas kesepakatan yang dibuat itu. Sebab sampai saat ini tidak jelas. Kami sebetulnya bingung, kerjasama yang selama ini didengungkan oleh Taman Nasional kerjasama seperti apa?. Hingga saat ini tidak jelas, memang betul kami diminta untuk menyusun rencana pengelolaan dari masyarakat, tapi hingga kini tidak ada tindak lanjut dari Taman Nasional Ujungkulon tentang konsep yang kami tawarkan,” ungkapnya.
Dirinya juga menyayangkan atas pembangunan fasilitas tersebut yang terkesan dipaksakan, karena tidak disertai dengan skema pengelolaannya, yang seharusnya proyek megah tersebut disertai dengan konsep tata kelola yang siap diterapkan, bukan malah sebaliknya.
“Bangunan telah jadi, baru sibuk menyusun tata kelola akhirnya bangunan/fasilitas tersebut sementara ini tidak ada penanggungjawab perawatan, ini sangat konyol,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Kepala Taman Nasional (KTN) Ujungkulon Ir. Anggodo, mengungkapkan kondisi sebenarnya yang sedang dialami.
“Sejak pandemi corona memang semua tempat wisata ditutup, hal itu sebagaimana arahan pusat dan Pemda Pandeglang,” ungkapnya.
Anggodo mengajak semua pihak dapat melalui musibah ini dan bersiap dengan new normal, termasuk persiapan kembali ke tempat-tempat wisata dan pembenahan/rehab sarana dan prasarana.
“Semoga dengan bangkitnya wisata masyarakat dapat meningkatkan penghidupan melalui wisata yang lebih memperhatikan protokol kesehatan, aman bagi pengelola wisata, pedagang, jasa-jasa wisata lainnya dan para pengunjungnya,” Papar Anggodo saat dihubungi via WhatsAap.
Reporter : Doni











