DaerahOpini

Bidan Ida, Pahlawan Kesehatan di Gempa Sulbar

×

Bidan Ida, Pahlawan Kesehatan di Gempa Sulbar

Sebarkan artikel ini

OPINI – Kuceritakan seorang Pahlawan Gempa Sulbar yang ada di desaku. Dia telah menyelamatkan para korban Gempa di 3 Dusun di Desa Botteng Utara.

Ya, kuanggap dia Pahlawan karena telah menolong para warga korban gempa di 3 dusun di Desaku, Desa Botteng Utara. Saya tidak tau apa yang akan terjadi jika dia tidak ada.

Click Here

Namanya Nurhaida, biasa dipanggil Idha, dia seorang Bidan Desa Sukarela di Kampungku. tapi saya merasa dia seperti dokter di kampungku. Warga selalu memeriksakan diri kepadanya jika sakit.

Saat kejadian gempa 6,2 SR di Majene, Bidan Ida sedang tidak tinggal di kampung kami, dia telah mengungsi ke rumah mertuanya tepatnya di desa tetangga karena efek gempa sebelumnya yang sdh merobohkan rumahnya.

Gempa 6,2 SR Sulbar yg terjadi di tanggal 15 Januari 2021, telah merobohkan sekitar 99% rumah batu di Kampungku, dusun Pasada, dusun Sendana dan dusun Popanga, desa Botteng Utara.

Itulah mengapa banyak yang luka parah pada saat kejadian akibat tertimpa reruntuhan rumah masing-masing. Beberapa orang kondisi kepalanya bocor, kaki dan tangan sobek, patah tulang, pendarahan di area mata, dan luka parah lainnya, bahkan 1 diantaranya meninggal dunia.

Semuanya panik, begitu paniknya beberapa orang mengabaikan keluarganya yang luka. Bahkan ada suami yang refleks meninggalkan anak dan istrinya yang tertimpa lemari.

Tak ada yang tau akan berbuat apa. Pemerintahan desa seakan tidak berfungsi, masing-masing pejabatnya mengurus istri dan anaknya yg menjadi korban parah, sedangkan bidan dan perawat yang standby di kampung juga tidak mampu berbuat apa-apa.

Mereka semua panik dan takut. Suara tangisan dimana-mana. Kampung kacau balau, seakan tak tertolong.

Kakak pertamaku salah satu korban parah. Ketika kakakku muntah darah, dan di telinga serta di hidung keluar darah, yang muncul di kepalaku hanya bidan Ida.

Bidan Ida yang bisa melakukan pertolongan pertama dalam kondisi seperti ini. Karna lampu mati dan jaringan handpone mati, saya akhirnya memutuskan untuk pergi kedesa tetangga memanggil bidan Ida.

Hujan mulai lebat, jalanan gelap, banyak longsor dan pohon tumbang yang menghadang jalan. Tapi saya tetap melajukan motorku sekencang mungkin sambil terus berdoa “Tuhan Jangan Kau Ambil Kakakku”.

Saat sampai dan memberitahu keadaan di kampung, Bidan Ida langsung mengambil perlengkapan medisnya dan bersama suami langsung menuju Pasada.

Pada saat itu di Pustu Desa hanya ada beberapa cairan infus, sedangkan obat-obatan kosong. Sehingga Bidan Ida hanya bisa menginfus kakakku yg mulai kehilangan kesadaran.

Bidan Ida kelihatan Bingung dengan raut wajah sedih melihat kondisi kampung saat itu, kemudian saya mendengar kalimat yang terlontar dari bidan ida, katanya “saya tidak bisa hanya diam dan menonton saja, saya harus melakukan sesuatu”.

Bidan Ida mulai menginstruksikan kepada perawat Pustu Desa dan adik-adik yang pernah belajar di sekolah kesehatan untuk membersihkan luka para korban, sedangkan bidan Ida dan Suami ke Puskesmas Botteng yg jaraknya dari kampung kami sekitar 5 Km.

Setelah kurang lebih 30 menit, bidan Ida dan suami kembali dengan membawa beberapa obat. Ternyata mereka membobol Puskesmas. Tanpa perhitungan bangunan akan roboh, bidan Ida dan suami menerobos Puskesmas yang telah sepi saat itu untuk mengambil obat dan perlengkapan medis yg dibutuhkan.

Kemudian Bidan Ida melakukan pengobatan seadanya dengan perlengkapan dan obat-obatan yang ada. Dia mulai menginfus dan menjahit luka beberapa korban lainnya.

Dari satu korban ke korban yang lain, dari satu dusun ke dusun yang lain, bidan Ida mengobati dan merawat luka mereka sampai sekarang. Tanpa pamri, tanpa membeda-bedakan.

Bidan Ida adalah Korban Gempa, tapi dia mengabaikan traumanya hanya untuk menolong banyak orang. Dia mengabaikan kesalamatnya dengan membobol dan menerobos puskesmas hanya untuk mendapat obat-obatan untuk para korban.

Dia mengabaikan lelahnya hanya untuk memastikan semua korban luka selamat. Jujur, saat itu hanya kepada Allah melalui tangan bidan Ida saya menaruh harapan.

Allah telah menolong kami melalui bidan Ida. Para korban luka masih terus dalam pengawasannya.

Penulis : Siti Zahrah (Pengajar Muda Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *