OPINI-Sebagai Bupati (Kab. Muna Barat), LM. Rajiun Tumada tentu telah memikirkan dan menimbang serta mengkalkulasi banyak hal saat memutuskan dirinya melepaskan jabatan sebagai bupati dan lebih memilih mencalonkan diri sebagai Bupati Muna pada Pemilihan Bupati Muna, 9 Desember tahun 2020 mendatang.
Pengalamannya dalam menggaet suara pemilih dengan melakukan pendekatan kepada pemilik kantong-kantong suara semisal tokoh masyarakat, pemuka agama, aktivis, dan seringnya menggelar pertemuan secara terbuka maupun tertutup adalah salah satu kelebihan yang dimilikinya.
Bagi saya, Rajiun bukan hanya berani dan cerdas tetapi diluar itu Dia memiliki keterampilan dan keahlian berbicara di atas podium. Jangan pernah memberinya kesempatan memegang mikrofon atau orasi bila tak ingin terpengaruh oleh ucapannya. Setiap yang mendengarnya pasti akan memberikan tepuk tangan (standing applause). Gaya bicaranya yang menggebu-gebu dan kemampuannya membakar semangat para pendukung dan simpatisannya adalah keunggulan lain yang ada padanya dan tidak dimiliki oleh kandidat lainnya. Dia mampu berbicara berjam-jam tanpa teks secara sistematis dan detail. Semua nama Desa/kampung dari ujung hingga ke ujung, dari Timur sampai barat, selatan hingga utara, semua dihafal diluar kepala.
Jika saja kampanye Pilkada serentak tahun 2020 memberikan kesempatan kepada para kandidat untuk melakukan pertemuan (tatap muka) maka dapat dipastikan pasangan LM. Rajiun Tumada – La Pili tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka memiliki kemampuan dan daya yang sama (energik), sama-sama pula memiliki keahlian berbicara di atas podium.
Keyakinan saya, Dia tanpa ragu dan tanpa beban akan menyampaikan berbagai capaian yang telah dilakukannya di Muna Barat selama Dia menjabat sebagai Bupati. Pembangunan infrastruktur, pelayanan kepada masyarakat, dan bantuan sosial yang dibuktikan sejumlah penghargaan yang diperolehnya akan menjadi andalan (jualan laris) saat kampanyenya. Dia akan membandingkan capaian-capainnya di Kabupaten Muna Barat dengan Kabupaten Muna. Serangannya akan membuat petahana terganggu. Kita akan menyaksikannya nanti saat pelaksanaan Debat Kandidat.
Sejauh ini, saya belum melihat dari pihak petahana (incumbent) dalam setiap postingan di media sosial juga pemberitaan di media massa (cetak dan elektronik/online) menyampaikan berbagai capaian yang telah dilakukannya, dalam hal pemenuhan atau pembangunan infrastruktur, pelayanan yang efektif dan efisien, serta keberhasilan lainnya yang dapat memberikan kepuasan kepada masyarakatnya.
Hemat saya, selama ini, Kita hanya disuguhkan berbagai postingan yang cenderung menyerang pribadi bakal calon Bupati dimana pelakunya adalah sebagian pendukung atau relawan petahana. Jika Tim dan juga relawan petahana hanya mengandalkan serangan lewat media sosial tanpa disertai dengan kerja-kerja sosial yang nyata di masyarakat maka saran saya agar Bupati Muna, LM. Rusman Emba sebaiknya didampingi oleh konsultan politik yang berpengalaman dan melakukan segala yang direkomendasikannya jika tak ingin mengalami kekalahan pada tanggal 9 Desember 2020.
Walau ini bukanlah kapasitas saya untuk memberikan penilaian, namun setidaknya saat melintas di ibukota Kabupaten Muna selalu saja lahir dalam benak ungkapan “Kapankah Muna ini akan berubah?”
Mungkin saja, bagi pendukung petahana memiliki pandangan yang berbeda dengan pengamatan juga penilaian saya terhadap Kabupaten Muna selama dijabat oleh Bupati Muna, LM. Rusman Emba. Terbuka ruang bagi saya untuk dikoreksi, dikritik, berkaitan dengan tulisan yang penuh kekurangan ini sepanjang tujuannya baik.
Tulisan ini tidak memiliki tujuan politik untuk mendukung kandidat tertentu dan bukan pula menunjukkan keberpihakan.
Salam….!!!
Penulis: Laode Muhammad Rasyid (Mantan Sekretaris Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK) Provinsi Sultra).











