Sekilasindonesia.id TANGERANG — Proses pembongkaran dalam rangka perbaikan Jalan Cisoka-Cangkudu kembali mendapat sorotan warga. Kali ini, seorang warga lanjut usia, H Tuti alias H Uting, mengaku keberatan karena warung miliknya yang berada di pinggir jalan akan terdampak pembongkaran.
Warung milik H Uting berlokasi di Kampung Cilaban RT 013/RW 006, Desa Bojongloa, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, Banten.
Warung tersebut menjadi salah satu sumber penghasilan H Uting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
H Uting mengaku kaget ketika mengetahui adanya rencana pembobokan jalan di depan warungnya.
Menurutnya, hingga proses pekerjaan akan dilakukan, belum ada sosialisasi dari pemerintah maupun pihak pemborong kepada dirinya dan warga yang rumah atau usahanya berada di sepanjang jalan.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak menolak program perbaikan jalan.
Namun, ia meminta pemerintah dan pihak pelaksana terlebih dahulu memberikan informasi yang jelas kepada warga mengenai teknis pekerjaan serta dampak terhadap bangunan dan usaha masyarakat.
“Warungnya mau dibongkar sekarang, terus kalau dibongkar nanti kami makan dari mana? Usaha bagaimana? Sudah saya sampaikan kepada mandor, silakan mau dibetulkan, tapi warung saya bagaimana? Dengan adanya pembongkaran jalan ini usaha saya terganggu.
“Nanti saya makan dari mana,” kata H Uting saat diwawancarai awak media, Kamis (3/9/2026).
Menurut H Uting, dirinya justru mengetahui rencana pembongkaran setelah bertanya langsung kepada mandor di lokasi.
Ia mengaku belum mendapatkan pemberitahuan resmi dari pihak terkait.
“Tidak ada yang datang. Malah saya yang nanya sama mandor, katanya mau sekarang dibongkar. Nanti saya tanya anak saya dulu, dia juga belum tahu,” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan apakah ada mekanisme kompensasi atau solusi bagi warga yang bangunan maupun usahanya terdampak pekerjaan proyek tersebut.
“Jangankan kompensasi, sosialisasi saja ke warga tidak ada,” tegasnya.
H Uting berharap Pemerintah Kabupaten Tangerang, Pemerintah Kecamatan Cisoka, Pemerintah Desa Bojongloa serta pihak pelaksana proyek dapat turun langsung menemui warga terdampak.
Menurutnya, komunikasi antara pemerintah, kontraktor dan masyarakat sangat penting agar pelaksanaan proyek tidak menimbulkan kebingungan maupun merugikan warga yang menggantungkan hidup dari usaha di sepanjang jalan.
“Kalau memang jalan mau diperbaiki, saya sangat mendukung, tapi sebelumnya warga diberitahukan terlebih dahulu. Jangan tiba-tiba dibongkar, kami yang tinggal dan mencari nafkah di pinggir jalan jadi bingung,” pungkas H Uting.
Bagindo Yakub.











