Berita

Dunia pendidikan di Takalar tercoreng,Dugaan Kekerasan di Lingkungan Sekolah, Oknum Guru SMP Negeri 4 Mangarabombang Diduga Pukul Dua Siswa

×

Dunia pendidikan di Takalar tercoreng,Dugaan Kekerasan di Lingkungan Sekolah, Oknum Guru SMP Negeri 4 Mangarabombang Diduga Pukul Dua Siswa

Sebarkan artikel ini

TAKALAR,- Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh dugaan tindakan kekerasan yang dilakukan seorang oknum guru terhadap siswanya di SMP Negeri 4 Mangarabombang, Kabupaten Takalar. Peristiwa yang terjadi pada Kamis pekan lalu itu menuai sorotan karena seorang pendidik yang seharusnya menjadi teladan justru diduga melakukan tindakan fisik terhadap peserta didik.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, kejadian bermula ketika seorang oknum guru memerintahkan para siswa untuk membersihkan sampah di lingkungan sekolah. Saat kegiatan berlangsung, salah seorang siswa bernama Ibrahim menyimpan telepon genggamnya di dalam kelas dan sempat duduk di kursi yang berada di depan kelas sebelum berjalan menuju kantin.

Click Here

Setelah selesai dari kantin, Ibrahim kembali masuk ke ruang kelas. Namun, setibanya di kelas, ia mendapati seorang oknum guru telah berada di dalam ruangan tersebut. Tanpa diketahui alasan yang jelas, oknum guru itu diduga langsung melayangkan pukulan kepada Ibrahim.

Tidak hanya Ibrahim, seorang siswa lainnya bernama Bara’ juga diduga menjadi korban pemukulan oleh oknum guru yang sama. Menurut keterangan yang dihimpun, setelah memukul Bara’, oknum guru tersebut kembali memukul Ibrahim pada bagian belakang kepala.

Tindakan tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai pola pembinaan yang diterapkan di lingkungan sekolah. Kekerasan fisik terhadap siswa tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun, terlebih dilakukan oleh seorang pendidik yang memiliki tanggung jawab untuk membimbing dan memberikan pendidikan dengan pendekatan yang humanis.

Sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman bagi peserta didik untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi mereka. Ketika seorang guru memilih menggunakan kekerasan sebagai bentuk respons atau hukuman, maka yang tercipta bukanlah pendidikan, melainkan rasa takut dan trauma bagi siswa.

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa praktik-praktik kekerasan yang selama ini kerap dianggap sebagai bentuk pendisiplinan harus dihentikan. Tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan pemukulan terhadap anak di lingkungan pendidikan. Guru memiliki kewenangan untuk membina dan menegur siswa, namun kewenangan tersebut tidak boleh berubah menjadi tindakan represif yang merugikan peserta didik.

Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah maupun oknum guru yang diduga terlibat belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut. Oleh karena itu, seluruh informasi yang beredar masih memerlukan klarifikasi dan verifikasi lebih lanjut dari pihak-pihak terkait.Selasa,16/06/2026

Orang tua siswa berharap pihak sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten Takalar, serta instansi terkait segera melakukan investigasi secara transparan terhadap dugaan kekerasan tersebut. Apabila terbukti terjadi pelanggaran, maka oknum yang terlibat harus diberikan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku demi menjamin keamanan dan perlindungan hak-hak peserta didik di lingkungan sekolah.