Babel, Sekindo.id – Ada ungkapan populer masyarakat Bangka Belitung, “Ade duit seneng belanje” (Ada uang, senang membelanjakan), yang dengan tepat menggambarkan cara pandang Bupati Bangka Barat, Markus, S.H., dalam menjalankan roda pemerintahan. Saat menengok perjalanan satu tahun masa baktinya bersama Wakil Bupati Yus Derahman, Markus mengakui bahwa Kabupaten Bangka Barat masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait keterbatasan keuangan daerah.
Kendala anggaran tersebut turut berpengaruh pada laju pembangunan yang belum bisa berjalan secara maksimal. Namun, kondisi tersebut tidak menjadikan Markus dan Yus Derahman berpasrah diri atau berhenti berinovasi. Seperti pepatah yang sering terdengar, “kalah di kantong, jangan kalah gaya”, pemerintahan Bangka Barat justru berusaha keras memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat meski di tengah keterbatasan.
“Kami telah menerima penghargaan sebagai pemberi layanan terbaik bagi masyarakat di tingkat kabupaten dan kota se-Indonesia,” ujar Markus saat memberikan sambutan dalam acara pelantikan pengurus PWI Kabupaten Bangka Barat, yang berlangsung Kamis (21/5/2026) siang di Aula Serba Guna Pusmet Mentok.
Markus sangat menyadari bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang ada saat ini belum memadai untuk mewujudkan pembangunan ideal yang diharapkan seluruh masyarakat. Oleh sebab itu, pemerintahannya memfokuskan upaya pada pelayanan publik yang maksimal, khususnya pada sektor-sektor utama yang menyentuh kebutuhan dasar warga, seperti layanan kesehatan, kepesertaan BPJS Kesehatan, serta pendidikan.
Menurut Markus, kreativitas tinggi adalah modal utama yang wajib dimiliki seorang pemimpin daerah. Tugas kepala daerah tidak hanya mengelola uang yang ada, tetapi juga harus cerdas dan giat mencari sumber pemasukan baru bagi daerah. Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah mengembangkan kerja sama bisnis melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), serta memaksimalkan potensi badan usaha daerah untuk menambah pendapatan asli daerah.
“Seorang pemimpin harus kreatif menggali sumber keuangan daerah, tidak boleh hanya mengandalkan APBD yang terbatas. Jika hanya memakai uang yang sudah ada di APBD, siapa pun pasti bisa melakukannya. Namun, kemampuan mencari sumber pemasukan baru agar APBD semakin kuat dan bisa digunakan untuk pembangunan, itulah yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin,” tegas Markus.
Pesan yang ingin disampaikan Markus sangat jelas: keterbatasan anggaran harus dijadikan beban moral agar penggunaan keuangan daerah menjadi lebih efisien, tepat sasaran, dan bermanfaat luas, bukan malah dihabiskan untuk hal-hal yang kurang prioritas.
Bagi Markus, jika tugas kepala daerah hanya sebatas mengandalkan uang APBD yang ada, maka tidak sulit mencari pemimpin di Bangka Belitung ini. Sebab, pada dasarnya bahkan anak kecil pun mengerti prinsip sederhana masyarakat kita: “ade duit seneng belanje”. (*)











