TANA LIA – Sebagai salah satu dari empat bulan haram selain Zulkaidah, Zulhijjah, dan Rajab, bulan Muharram oleh masyarakat dijadikan sebagai momentum untuk berburu dan mengais berkah karena didalamnya terdapat hari yang mengandung berbagai keutamaan tepatnya dihari ke-10 yang juga dikenal dengan hari Asyura.
Beragam cara pun dilakukan. Pengurus Masjid Jami’ Istiqomah Desa Tanah Merah Kecamatan Tana Lia misalnya, pada hari Ahad malam (30/08/2020) kemarin menggelar kegiatan pengajian dengan menghadirkan Penghulu KUA Kecamatan Tana Lia, Syahrul Afandi, S. HI untuk membawakan tausiah.
Dalam tausiahnya, Syahrul menyampaikan bahwa hampir seluruh Nabi dan Rasul itu ada kaitannya dengan hari Asyura atau 10 Muharram, diantaranya Nabi Adam, Nabi Yunus, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, dan Nabi Musa. Kisah para Nabi dan Rasul tersebut jika kita liat dari berbagai riwayat yang ada, memiliki relevansi dengan kondisi yang ada dewasa ini.
Salah satu yang dapat dijadikan sebagai pembelajaran ialah dengan menjadikan momentum bulan Muharram ini untuk semakin mendekatkan diri kepada Yang Kuasa sekaligus memperbanyak Istigfar dan memohon ampun atas segala dosa dan khilaf. Lanjutnya.
Seusai menyimak dan mendengarkan tausiah agama, Penitia dan Pengurus Masjid kemudian menyuguhkan bubur asyura kepada seluruh masyarakat yang hadir.
Berdasarkan penuturan salah seorang pengurus Masjid, membuat dan menyuguhkan bubur asyura sudah menjadi tradisi turun temurun setiap kali memperingati hari Asyura.
Selain Masjid Jami’ Istiqomah, sehari sebelumnya (Sabtu, 29/08/2020) Pengurus Masjid Jami’ Baitul Muhtadin Desa Sambungan Selatan juga menyelenggarakan kegiatan yang serupa yang dirangkaikan dengan acara syukuran atas selesainya pembangunan masjid yang dibangun sejak tahun 2019 yang lalu.
Hadir sebagai pengisi tausiah dalam kesempatan tersebut, Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Tana Lia, Bapak Abdul Malik, S. HI.
Dihadapan seluruh masyarakat yang hadir memadati masjid, beliau menyampaikan bahwa sebagai ungkapan syukur atas selesainya pembangunan Masjid maka ia tidak boleh hanya sebatas ungkapan kata tapi juga harus dibarengi dengan tindakan dengan cara meraimakannya melalui kegiatan shalat berjamaah dan juga kegiatan keagamaan lainnya.











