Sekilasindonesia.id TANGERANG — Kepala UPTD Puskesmas Cisoka, Kabupaten Tangerang, drg. Reta Rianti memberikan klarifikasi terkait meninggalnya Nopi Haerani di Puskesmas Cisoka pada Kamis (17/9/2026).
Klarifikasi tersebut disampaikan drg. Reta Rianti di hadapan Camat Cisoka Sumartono dan awak media pada Senin (21/9/2026) siang.
Dalam keterangannya, ia membantah adanya pembiaran maupun kelalaian dalam penanganan pasien seperti yang sebelumnya beredar di media sosial.
Menurut drg. Reta, Nopi Haerani tiba di Puskesmas Cisoka dalam kondisi sudah cukup parah.
Pasien disebut mengalami sesak napas, pucat, serta terdapat lebam pada bagian tubuh, termasuk kaki dan tangan.
Pihak puskesmas kemudian melakukan pemeriksaan terhadap pasien.
Setelah hasil pemeriksaan laboratorium keluar, menurut drg. Reta, kondisi Nopi membutuhkan penanganan lebih lanjut di rumah sakit sehingga harus segera dirujuk.
Namun, proses rujukan tersebut sempat terkendala karena pihak keluarga, dalam hal ini ayah dan ibu pasien, disebut menolak rujukan dan menginginkan Nopi tetap mendapatkan perawatan di Puskesmas Cisoka.
Kami klarifikasi awal kejadian Nopi Haerani di Puskesmas Cisoka pada tanggal 17 September 2026.
“Nopi Haerani keadaannya waktu itu memang sudah cukup parah, pasien sudah sesak, kemudian pucat, ada lebam di tubuhnya atau di kaki dan tangan,” kata drg. Reta Rianti.
Ia menjelaskan, berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, pasien membutuhkan rujukan karena kondisi Puskesmas Cisoka memiliki keterbatasan fasilitas untuk menangani kondisi kegawatdaruratan tersebut.
“Setelah hasil keluar itu memang harus segera dirujuk ke rumah sakit, tetapi pada saat proses itu keluarga, orang tuanya, ayah dan ibunya, menolak untuk dirujuk. Inginnya dirawat di puskesmas.
“Tetapi kita tidak bisa melakukan penanganan di puskesmas karena keterbatasan fasilitas,” jelasnya.
Meski keluarga belum bersedia dirujuk, pihak puskesmas mengaku tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi pasien.
Menurut drg. Reta, petugas medis terus melakukan kontrol, monitoring dan pemeriksaan karena kondisi Nopi dinilai gawat dan tidak memungkinkan untuk ditinggalkan tanpa pemantauan.
Kita terus melakukan kontrol, monitor dan pemeriksaan terus karena kita monitor pasiennya gawat.
“Kita tidak mungkin meninggalkan karena itu tidak sesuai prosedur kami,” ujarnya.
Seiring waktu, kondisi Nopi disebut semakin menurun, Dokter Ayu kemudian terus membujuk keluarga agar bersedia membawa pasien ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lengkap.
Drg. Reta mengatakan keluarga akhirnya menyetujui rujukan sekitar pukul 11.00 WIB, ketika kondisi pasien sudah semakin memburuk.
Dokter Ayu terus membujuk keluarga untuk segera mau dirujuk.
“Baru mau pada jam 11 lebih, sedangkan posisi pasien itu sudah semakin parah,” ungkapnya.
Setelah keluarga menyetujui rujukan, pihak puskesmas kemudian melakukan persiapan dan berkoordinasi dengan rumah sakit tujuan.
Namun, menurut drg. Reta, kondisi pasien semakin menurun sehingga petugas harus terlebih dahulu melakukan stabilisasi.
Ia mengatakan kondisi Nopi sudah mengalami penurunan drastis dan membutuhkan bantuan pernapasan.
“Pada saat persiapan pasien kita sudah sesuai prosedur, tetapi keadaan pasien itu sudah semakin menurun, sudah dianggap drop, jadi kita harus ganti pengobatannya.
“Waktu itu sudah mulai untuk bantuan napas karena pasien sudah benar-benar drop,” jelasnya.
Drg. Reta menuturkan, kondisi pasien yang semakin kritis membuat proses pemindahan ke ambulans tidak bisa langsung dilakukan.
Petugas medis harus melakukan tindakan stabilisasi terlebih dahulu.
Jadi kita harus persiapkan stabilisasi pasien dahulu sesuai prosedur.
“Pada saat proses itu kita sudah berusaha semaksimal mungkin, sudah tidak bisa ditolong, tidak keburu dirujuk, sudah keburu meninggal,” katanya.
Atas kejadian tersebut, drg. Reta dengan tegas membantah adanya pembiaran ataupun kelalaian dari pihak Puskesmas Cisoka dalam menangani Nopi Haerani.
“Jadi tidak ada pembiaran ataupun kelalaian medis kami untuk membiarkan pasien tersebut dilama-lamakan dibawa ke rumah sakit, karena memang kondisi pasiennya itu sudah gawat, memang sudah darurat, sudah gawat disaat almarhum masuk ke UGD Puskesmas Cisoka,” tegasnya.
Lebih lanjut, drg. Reta menegaskan bahwa pihak Puskesmas Cisoka tidak lalai dalam memberikan penanganan kepada Nopi Haerani.
Ia menyebut seluruh tindakan medis dilakukan semaksimal mungkin dengan tetap mengikuti prosedur penanganan pasien dalam kondisi kegawatdaruratan.
“Saya tegaskan kita tidak lalai dalam melakukan penanganan atas nama almarhum Nopi Haerani karena kami sudah melakukan yang sebisa mungkin, secara medis kita tidak bisa meninggalkan SOP, kita sejalan,” ucapnya.
Menurutnya, dalam menangani pasien gawat darurat, SOP bukan berarti petugas hanya menjalankan prosedur secara administratif, tetapi tindakan medis dan prosedur dilakukan secara bersamaan sesuai kondisi pasien.
Pada saat kita menangani pasien kegawatdaruratan seperti itu, SOP akan berjalan seiringan dalam waktu yang bersamaan.
“Kita sambil berjalan, kita sambil melakukan SOP. Jadi kami tidak semata-mata mengedepankan SOP, tetapi tindakan itu sudah terbungkus ke dalam SOP,” pungkas drg. Reta.
Bagindo Yakub.











