Sekilasndonesia.id JAKARTA — Perayaan Hari Disabilitas Internasional (HDI) yang digelar Partai Gerindra pada 8 Desember 2025 mendapat apresiasi langsung dari Anggota Komisi Nasional Disabilitas (KND), Fatimah Asri Mutmainnah.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Gerindra merupakan salah satu partai politik yang paling konsisten memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas di Indonesia.
Saya setuju dengan yang disampaikan tadi, bahwa Gerindra adalah partai terdepan yang berdiri bersama disabilitas Indonesia.
Saya selalu melihat : ‘Oh, Gerindra ada Mbak Sara, ada Rahayu Saraswati,’ yang selalu hadir bersama kami,” ujarnya disambut tepuk tangan para peserta.
Fatimah mengungkapkan bahwa sejak pelantikan pertama KND, pihaknya langsung melakukan audiensi ke berbagai partai politik.
Dari seluruh kunjungan tersebut, hanya dua partai yang menunjukkan komitmen kuat dalam mengarusutamakan isu disabilitas, salah satunya Gerindra.
“Saya tidak membantah kehadiran Partai Gerindra, tetapi saya menilai, siapa yang bersuara keras? Di antaranya adalah Partai Gerindra. Setuju ya, teman-teman?” katanya.
Fatimah menekankan bahwa isu disabilitas masih sering diikuti stigma sosial yang menahun.
Karena itu, pemberdayaan menjadi kunci untuk mengembalikan martabat penyandang disabilitas sebagai manusia yang setara.
Namun ia juga mempertanyakan apakah kebijakan yang tersedia sudah benar-benar terakses oleh mereka yang membutuhkan.
Ia mencontohkan dialog KND dengan Apindo yang menyatakan membuka bursa kerja untuk 100 penyandang disabilitas.
Namun ia mempertanyakan apakah informasi lowongan tersebut benar-benar sampai kepada kelompok sasaran.
“Ketika bicara kuota disabilitas 2% di instansi pemerintah dan 1% di lembaga swasta, kita harus bertanya : apakah informasinya sampai? Apakah akses informasinya benar-benar mudah diterima penyandang disabilitas?” ujarnya.
Menurut Fatimah, Gerindra tidak hanya memberikan panggung seremonial, tetapi juga komitmen menghadirkan ruang partisipasi berkelanjutan bagi penyandang disabilitas.
Agar ruang tersebut dapat diisi secara optimal, ada dua hak mendasar yang wajib dipenuhi : aksesibilitas dan akomodasi yang layak.
“Tanpa dua hak ini, mustahil penyandang disabilitas dapat berperan penuh,” tegasnya.
Dalam sambutannya, Fatimah membagikan kisah inspiratif dari seorang penyandang disabilitas binaan Gerindra di Bekasi bernama Ibu Yuli.
Berkat aksesibilitas dan akomodasi yang layak, Ibu Yuli mengalami perubahan luar biasa dari sebelumnya penerima zakat, kini menjadi pembayar zakat.
“Ini transformasi yang kita harapkan terjadi pada seluruh penyandang disabilitas,” katanya.
Fatimah menegaskan bahwa Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 merupakan fondasi utama perubahan perspektif terhadap penyandang disabilitas.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto, yang menempatkan pemuda, perempuan, dan penyandang disabilitas sebagai prioritas pembangunan nasional.
“Political will beliau memberikan Makan Bergizi Gratis dua kali sehari bagi penyandang disabilitas sangat luar biasa,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan bahwa banyak penyandang disabilitas yang tidak bersekolah, sehingga mekanisme distribusi makanan harus dirancang secara matang.
“Mobilisasi penyandang disabilitas tidak sederhana. Kebutuhan mereka beragam. Karena itu, political will harus diikuti mekanisme yang terarah,” tegasnya.
Fatimah juga menyoroti krisis kesehatan mental generasi muda. WHO mencatat bahwa satu dari tiga remaja dunia berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental.
Menjawab kondisi ini, KND telah menerbitkan Fikih Penguatan Disabilitas Mental dan Sosial, yang saat ini masih dalam bentuk dummy book.
Ia berharap Gerindra dapat memperjuangkan penguatan regulasi terkait isu tersebut agar seluruh peraturan hukum selaras dengan UU Disabilitas, termasuk larangan pemasungan yang merupakan pelanggaran HAM.
Di akhir sambutannya, Fatimah mengajak seluruh penyandang disabilitas untuk terus meningkatkan kapasitas diri.
Kita bukan hanya penerima manfaat, tetapi aktor pembangunan.
Tingkatkan kapasitas kita agar bisa membangun Indonesia yang inklusif, bermartabat, dan bebas diskriminasi.” ucapnya.
“Kekurangan dan keterbatasan bukan untuk menghentikan langkah kita, tetapi untuk memanggil keberanian dan kekuatan kita. Disabilitas bisa. Disabilitas berkarya untuk Indonesia berjaya.” tutupnya.
Bagindo Yakub.











