TAKALAR — Kasus sakit perut yang dialami sejumlah siswa UPT SMP Negeri 2 Takalar setelah menyantap makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 1 September 2026 lalu menyisakan pertanyaan baru Ada Apa???
Sedikitnya 28 siswa dan sejumlah guru dilaporkan mengalami berbagai keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG. Namun, sampel makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut ternyata tidak diperiksa di laboratorium.
Kondisi tersebut membuat penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami siswa belum dapat dipastikan secara ilmiah.
Padahal, pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dapat menjadi salah satu langkah untuk mengetahui kemungkinan adanya bakteri, zat berbahaya, atau kontaminasi pada makanan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar, Nilal Fauziah, saat dikonfirmasi mengatakan pihaknya tidak melakukan pemeriksaan terhadap sampel makanan yang diduga berkaitan dengan keluhan kesehatan guru dan siswa.
“Tidak diperiksa karena tidak ada sampel yang sampai ke kami. Waktu kami turun, contoh sampel yang seharusnya disimpan 2 x 24 jam ternyata sudah dibuang,” ujar Nilal Fauziah, Kamis (17/9/2026).
Nilal juga menyayangkan kejadian tersebut tidak segera dilaporkan oleh pihak sekolah maupun siswa kepada dinas terkait. Menurutnya, penanganan kasus tersebut selanjutnya telah diteruskan melalui jalur kewenangan Badan Gizi Nasional (BGN).
“Yang menderita juga tidak melapor ke fasilitas kesehatan. Sudah dilaporkan ke Korwil BGN, diteruskan ke BGN Provinsi untuk selanjutnya menjadi kewenangan BGN,” terangnya.
Ia juga memastikan dapur SPPG Sombalabella 1 yang beralamat di Kelurahan Sombalabella, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar, milik yayasan Sinar Jaya Reski, saat ini masih dalam status suspensi.
Sebelumnya, sejumlah siswa SMP Negeri 2 Takalar dilaporkan mengalami keluhan seperti sakit perut dan diare setelah mengonsumsi makanan MBG. Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena program MBG berkaitan langsung dengan kesehatan dan keselamatan peserta didik.
Tidak adanya pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan kemudian menimbulkan pertanyaan mengenai proses penanganan setelah munculnya laporan dugaan keracunan tersebut.
Tanpa hasil uji laboratorium, penyebab keluhan kesehatan yang dialami siswa belum dapat dikaitkan secara pasti dengan makanan yang dikonsumsi. Karena itu, diperlukan penjelasan dari pihak-pihak terkait mengenai langkah pemeriksaan yang telah dilakukan serta dasar dalam menentukan penyebab kejadian tersebut.
Terlebih, dapur penyedia MBG yang bersangkutan sebelumnya disebut baru kembali beroperasi setelah menjalani masa penghentian sementara atau suspensi.
Kondisi ini membuat pengawasan terhadap keamanan pangan menjadi sorotan.
Pemerintah dan pihak pengelola MBG perlu memastikan seluruh tahapan, mulai dari pengolahan, penyimpanan, distribusi hingga penanganan ketika terjadi dugaan kejadian luar biasa, dilakukan sesuai standar keamanan pangan.
Jika sampel makanan memang tidak diperiksa di laboratorium karena sudah dibuang sebelum petugas mengambilnya, publik perlu mendapat penjelasan mengenai prosedur penyimpanan sampel, pihak yang bertanggung jawab, serta langkah pemeriksaan yang dilakukan setelah kejadian.
Kasus ini penting dituntaskan secara transparan agar tidak berhenti pada kesimpulan sementara. Informasi mengenai kondisi medis siswa, penanganan kesehatan, kronologi kejadian, serta pemeriksaan terhadap makanan dapat menjadi bagian penting dalam memastikan penyebab kejadian secara objektif.
Hingga kini, pihak terkait diharapkan memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai status penanganan kasus tersebut serta langkah yang dilakukan untuk memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi di lingkungan sekolah.
Diberitakan sebelumnya, sebanyak 28 siswa UPT SMPN 2 Takalar diduga mengalami gangguan kesehatan terutama mengalami sakit perut dan diare usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolahnya, Senin (31/8/2026).
Para siswa mengaku, MBG yang mereka konsumsi mengeluarkan aroma tidak sedap atau bau amis, artinya makanan tersebut diduga tidak layak konsumsi.
“Makanannya bau amis om, kayak basi om,” ungkap sejumlah siswa UPT SMPN 2 Takalar saat dikonfirmasi, Selasa (1/9/2026).
Informasi sementara menyebutkan sekitar 28 siswa mengalami sakit perut hingga diare. Sejumlah guru juga dilaporkan mengalami keluhan serupa.











