Sekilasindonesia.id JAKARTA — Imigrasi Gandeng ITB Inisiasi “Pagar Digital” untuk Pengawasan Perbatasan
Direktorat Jenderal Imigrasi bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung melalui Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB menginisiasi program inovatif bertajuk “Pagar Digital”, sebuah sistem pengawasan keimigrasian berbasis teknologi drone untuk memperkuat pengamanan wilayah perbatasan Indonesia.
Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, menyampaikan hal tersebut usai rapat pembahasan bersama perwakilan ITB di Gedung Direktorat Jenderal Imigrasi, Selasa (30/06/2026).
Menurutnya, gagasan ini muncul dari keprihatinan atas masih minimnya teknologi karya anak bangsa di sektor pengamanan perbatasan, meskipun Indonesia memiliki sumber daya manusia yang kompetitif.
Saya melihat langsung teknologi pengamanan perbatasan di sebuah eksibisi pertahanan di Singapura beberapa waktu lalu.
“Banyak teknologi canggih digunakan, tetapi belum banyak yang berasal dari Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki garis perbatasan darat sepanjang 3.111 km yang tersebar di Kalimantan, Papua, dan Nusa Tenggara Timur, namun hanya didukung 18 PLBN dan 38 Pos Lintas Batas (PLB), dengan sejumlah pos belum aktif secara optimal.
Fokus Pengawasan Jalur Ilegal dan TPPO
Hendarsam menjelaskan, tantangan utama bukan hanya pada jalur resmi, tetapi juga pada jalur tikus yang kerap digunakan untuk aktivitas ilegal seperti Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), penyelundupan manusia, dan komoditas ilegal.
Data Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) darat periode Januari–April 2026 mencatat 679.867 pelintas resmi, namun pengawasan jalur tidak resmi masih menjadi pekerjaan besar.
“Pagar Digital ini kami prioritaskan di wilayah Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia, Papua dengan Papua Nugini, serta NTT dengan Timor Leste,” jelasnya.
Selain itu, penguatan juga akan menyasar wilayah laut seperti Kepulauan Riau, Batam, dan jalur penyeberangan strategis lainnya.
Drone HALE dan Mantis Jadi Tulang Punggung Sistem Program ini akan memanfaatkan teknologi drone hasil pengembangan ITB sejak 2019 yang diproduksi bersama PT Dirgantara Indonesia.
Sistem Pagar Digital menggabungkan dua jenis drone utama :
Drone HALE (High-Altitude Long-Endurance)
Beroperasi di ketinggian sekitar 1.000 meter dan mampu terbang hingga 24 jam untuk pemantauan area luas secara berkelanjutan.
Drone Mantis
Berfungsi sebagai unit taktis untuk investigasi visual dan intersepsi jarak pendek setelah sistem mendeteksi pergerakan mencurigakan.
Kedua drone tersebut ditenagai energi surya sehingga mampu beroperasi secara berkelanjutan di wilayah perbatasan yang sulit dijangkau.
Percepat Respons dan Kurangi Ketergantungan Aset Berawak
Hendarsam menegaskan bahwa sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai pengawasan, tetapi juga mempercepat respons petugas di lapangan.
“Begitu drone mendeteksi aktivitas mencurigakan, koordinat langsung dikirim ke pos imigrasi terdekat dan ini memangkas waktu respons secara signifikan,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa penggunaan drone lebih efisien dibandingkan operasi udara berawak, serta meningkatkan keselamatan petugas di lapangan.
Ke depan, program Pagar Digital diharapkan menjadi fondasi kemandirian teknologi nasional di sektor pengawasan perbatasan dan keamanan siber keimigrasian.
Kolaborasi antara Imigrasi, ITB, dan PT Dirgantara Indonesia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada sistem asing sekaligus memperkuat kedaulatan negara.
“Ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang kemandirian bangsa dalam menjaga wilayahnya sendiri,” tutup Hendarsam.
Bagindo Yakub.











