Daerah

Tinggal di Gubuk Reot dan Hidupi Kedua Anaknya, Sumarang Harap Bantuan dari Pemerintah

×

Tinggal di Gubuk Reot dan Hidupi Kedua Anaknya, Sumarang Harap Bantuan dari Pemerintah

Sebarkan artikel ini

JENEPONTO, SEKILASINDO.COM – Seorang ayah yang berprofesi sebagai pemulung rumput laut di kampung Birangloe (Pallantikang), Kelurahan Tonrokassi Barat, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, tinggal di rumah reyot tidak layak huni.

Sumarang atau kerap disapa Dg Ngiri (60) ini tinggal bersama kedua buah hatinya tanpa kasih sayang dari seorang ibu.

Click Here

Anaknya, Suharni (25) dan Suhardi (17) membantu pekerjaan sang ayah sebagai pemulung rumput laut sejak ibunya meninggal.

Sejak Dg Noro meninggal, beberapa tahun lalu, Dg Ngiri merasa beban hidupnya semakin pahit mengingat usianya yang tak lagi muda.

Atap rumah yang berukuran 3×4 yang mereka tinggali hanya terbuat dari anyaman rumbia. Kondisinya pun telah termakan usia.

Bagi setiap orang yang melihat tempat tinggalnya, pastinya miris dengan kondisi seperti itu yang berada di tengah perkebunan milik warga.

Saat ditanya, Ia sangat membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.

“Saya mau rumah nak, supaya saya bisa tinggal di rumah yang layak bersama dengan anakku,” kata Dg Ngiri, kepada media, Selasa (19/11/2019).

Diakui, 40 tahun tinggal di rumah reyot dan kumuh tanpa adanya sentuhan dari pemerintah hingga saat ini.

“Saya kerja sebagai pemulung rumput laut nak, dari hasil itulah saya nikmati bersama anak anaku kalau sudah di timbang, kadang dapat Rp100 ribu dalam satu minggu, kadang juga tidak ada,” curhat sang bapak itu.

Meskipun dibantu oleh kedua anaknya, Dg Ngiri, sebagai pemulung rumput laut namun kadang tidak mencukupi untuk kebutuhan hari – harinya.

Parahnya lagi, kata dia, sesekali tidak makan karena tidak memiliki uang untuk membeli beras dan lain-lain.

Namun yang paling memilukan. Langit-langit rumah tanpa ada penerang lampu.

Diketahui, jika menuju ke lokasi rumah Dg Ngiri, harus mempersiapkan tenaga ekstra karena harus rela berjalan kaki sejauh 300 meter dari permukiman warga.

Pasalnya akses jalan untuk kendaran roda empat masih sangat sulit untuk dilalui kecuali kendaraan roda dua (motor).

Reporter: Firmansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *