Sekilasindonesia.id CILEGON – Program kacamata gratis bagi pelajar di Kota Cilegon justru membuka fakta yang patut menjadi perhatian. Dari pemeriksaan mata yang dilakukan, 52,17 persen pelajar yang diperiksa diketahui mengalami permasalahan kesehatan mata yang membutuhkan perhatian dan penanganan lebih lanjut.
Temuan tersebut mencuat dalam program pemeriksaan mata dan pembagian kacamata gratis yang digelar melalui kolaborasi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Cilegon dan Indonesian Ophthalmologists Association (IROPIN) di Aula Dinas Kesehatan Kota Cilegon, Kamis (24/9/2026).
Program ini menyasar pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Tak tanggung-tanggung, sebanyak 2.000 pelajar ditargetkan menjadi penerima manfaat.
Angka 52,17 persen tersebut menjadi perhatian karena menunjukkan masih adanya pelajar yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan kesehatan mata agar gangguan penglihatan tidak mengganggu aktivitas belajar mereka.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cilegon, drg. Hj. Ratih Purnamasari, M.K.M, menyambut positif program tersebut.
Menurutnya, persoalan penglihatan pada anak usia sekolah tidak bisa dianggap sepele.
Program ini sangat bermanfaat bagi anak-anak yang mengalami gangguan penglihatan.
Dengan bantuan kacamata yang sesuai kebutuhan, mereka dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan lebih nyaman, fokus, dan optimal,” ujar Ratih.
Bagi pelajar, kemampuan melihat dengan jelas bukan sekadar persoalan kenyamanan.
Gangguan penglihatan dapat membuat anak kesulitan membaca materi, melihat tulisan di papan, hingga mengikuti proses pembelajaran secara maksimal.
Karena itu, Ratih menilai deteksi dini menjadi kunci.
Pemeriksaan mata secara berkala diperlukan agar gangguan penglihatan dapat diketahui lebih cepat dan ditangani sesuai kebutuhan.
Temuan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kesehatan mata anak usia sekolah membutuhkan perhatian bersama, bukan hanya dari tenaga kesehatan, tetapi juga keluarga dan lingkungan sekolah.
Ratih secara khusus meminta para guru dan tenaga pendidik lebih peka terhadap perubahan perilaku belajar siswa.
Anak yang mulai kesulitan melihat, sering menyipitkan mata, atau mengalami hambatan ketika membaca, menurutnya perlu segera mendapat perhatian.
Kami mengimbau kepada seluruh guru agar segera memberikan informasi dan mengusulkan pemeriksaan apabila menemukan siswa yang mengalami kesulitan melihat atau memiliki gangguan penglihatan.
“Semakin cepat terdeteksi, semakin cepat pula dapat dilakukan pemeriksaan dan penanganan yang tepat,” tegas Ratih.
Program tersebut turut mendapat dukungan Pemerintah Kota Cilegon melalui sinergi lintas sektor bersama Dinas Kesehatan, Baznas, dan IROPIN.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pembagian kacamata gratis.
Lebih dari itu, program ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan mata sejak usia dini.
Dengan target 2.000 pelajar, program tersebut menjadi salah satu langkah untuk memastikan gangguan penglihatan tidak menjadi penghalang anak-anak Cilegon dalam menuntut ilmu.
Sebab, bagi seorang pelajar, melihat jelas bukan sekadar soal pandangan—tetapi juga tentang membuka kesempatan untuk belajar, berkembang, dan meraih prestasi.
Bagindo Yakub.











