Berita

BPPKB Banten Tegaskan Klarifikasi Terkait Pemberitaan Dugaan Keterlibatan Anggota dalam Aktivitas Obat, Minta Media Kedepankan Verifikasi

×

BPPKB Banten Tegaskan Klarifikasi Terkait Pemberitaan Dugaan Keterlibatan Anggota dalam Aktivitas Obat, Minta Media Kedepankan Verifikasi

Sebarkan artikel ini

Sekilasindonesia.id TANGERANG – Beredar pemberitaan di sejumlah media yang menyebut adanya dugaan keterlibatan oknum yang mengatasnamakan Anggota Ormas BPPKB Mauk dalam aktivitas penjualan obat Hexymer dan Tramadol di wilayah Kecamatan Mauk.

Menanggapi hal tersebut, pihak Ormas BPPKB Banten menegaskan bahwa informasi tersebut tidak dapat dibenarkan begitu saja tanpa adanya klarifikasi dan verifikasi yang jelas.

Click Here

H. Sayafei selaku perwakilan organisasi menegaskan bahwa dugaan tersebut harus disikapi secara bijak, mengingat obat seperti Hexymer dan Tramadol merupakan jenis obat yang penggunaannya harus berada di bawah pengawasan medis dan dapat membahayakan generasi muda jika disalahgunakan.

Ia juga meminta kepada awak media agar lebih berhati-hati dalam mencantumkan nama organisasi, khususnya Ormas BPPKB Banten, dalam setiap pemberitaan.

Menurutnya, perlu dilakukan pengecekan terlebih dahulu untuk memastikan apakah individu yang disebut benar merupakan anggota resmi organisasi atau hanya mengatasnamakan.

Setiap informasi yang menyangkut nama organisasi harus dikonfirmasi terlebih dahulu.

“Bisa dicek melalui kartu tanda anggota (KTA) atau ditanyakan langsung ke jajaran pengurus di wilayah masing-masing, karena setiap daerah memiliki posko dan struktur kepengurusan,” ujarnya, Senin (18/05/2026).

H. Sayafei menambahkan bahwa jika diperlukan, konfirmasi juga dapat dilakukan kepada Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) setempat guna memastikan keabsahan keanggotaan seseorang dalam organisasi.

Sebagai organisasi masyarakat, BPPKB Banten memiliki peran dalam pembinaan potensi keluarga besar Banten, serta menjadi wadah aspirasi anggota dan masyarakat.

“Organisasi ini juga aktif dalam kegiatan sosial, advokasi, serta pengembangan ekonomi dan ketenagakerjaan, termasuk penyaluran tenaga kerja informal dan kegiatan kemasyarakatan dengan semangat kebersamaan “sakit satu sakit semua,” tutup H. Sayafei.

Bagindo Yakub.