Daerah

Festival Lampu Toae Semarakkan Budaya Sulsel, Sangdara Bone Ajak Generasi Muda Lestarikan Tradisi

×

Festival Lampu Toae Semarakkan Budaya Sulsel, Sangdara Bone Ajak Generasi Muda Lestarikan Tradisi

Sebarkan artikel ini

BONE, 1 Oktober 2026 — Riuh seni, tarian, dan ekspresi budaya mewarnai Festival Budaya Maritim Lampu Toae yang digelar pada 27–29 September 2026. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Gau Maraja Sulawesi Selatan ini berlangsung meriah dan mendapat antusias tinggi dari masyarakat.

Festival menghadirkan beragam kegiatan kebudayaan, mulai dari lomba tari antarsekolah hingga penampilan para pegiat seni dan budaya. Keterlibatan pelajar menjadi salah satu daya tarik utama karena menunjukkan bagaimana tradisi lokal dapat terus diperkenalkan kepada generasi muda melalui ruang kreativitas dan pembelajaran budaya.

Click Here

Bagi para pelaku seni, festival budaya bukan sekadar ajang pertunjukan. Di dalamnya terkandung pesan penting tentang upaya menjaga identitas, nilai-nilai luhur, serta warisan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Salah satu sanggar yang mendapat kepercayaan untuk terlibat dalam kegiatan tersebut adalah Sanggar Sangdara Bone. Pendiri sanggar, Andi Vavan, menyebut kepercayaan yang diberikan pemerintah daerah sebagai bentuk apresiasi yang sangat berarti bagi perjalanan sanggar dalam mengembangkan dan melestarikan seni budaya daerah.

“Kepercayaan yang diberikan pemerintah daerah kepada Sanggar Sangdara Bone merupakan salah satu apresiasi yang sangat tinggi bagi kami. Ini menjadi energi dan motivasi untuk terus berkarya serta menjaga budaya yang diwariskan oleh leluhur,” ujar Andi Vavan.

Menurutnya, keterlibatan sanggar seni dan komunitas budaya dalam berbagai agenda daerah sangat penting karena pelestarian budaya membutuhkan ruang aktualisasi yang berkelanjutan. Generasi muda tidak hanya perlu menjadi penonton, tetapi juga harus didorong menjadi pelaku budaya yang aktif.

Ia menilai sekolah, sanggar seni, komunitas budaya, pemerintah daerah, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga keberlangsungan budaya. Dengan kolaborasi tersebut, nilai-nilai budaya dapat terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Kalau kita ingin budaya tetap hidup, maka anak-anak muda harus diberi ruang untuk mengenal dan mencintainya. Mereka harus diberi kesempatan untuk belajar, berlatih, tampil, dan kemudian meneruskan apa yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya,” katanya.

Festival Budaya Maritim Lampu Toae menjadi bukti bahwa kekayaan budaya Sulawesi Selatan masih memiliki tempat yang kuat di tengah masyarakat. Seni tari, musik tradisional, dan berbagai ekspresi budaya tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga dapat menjadi bagian dari kehidupan generasi masa kini.

Andi Vavan berharap kegiatan serupa terus dipelihara dan dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak generasi muda agar budaya daerah tetap lestari dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

“Warisan leluhur tidak akan hidup hanya karena kita mengenangnya. Ia akan tetap hidup ketika generasi muda mau mempelajari, mencintai, dan meneruskannya,” pungkasnya.

Festival Budaya Maritim Lampu Toae pun meninggalkan pesan kuat bahwa kebudayaan bukan sekadar seremoni, melainkan jembatan yang menghubungkan masa lalu, kehidupan hari ini, dan masa depan generasi Sulawesi Selatan.