TAKALAR — Penyaluran Bantuan Pangan berupa beras dan minyak goreng untuk periode Oktober–November 2025 di Kelurahan Sombalabella, Kecamatan Pattalassang, Kabupaten Takalar, menuai sorotan publik. Pasalnya, dari total 544 penerima bantuan, muncul dugaan adanya pergantian data penerima yang dinilai tidak transparan.
Informasi tersebut diungkapkan oleh salah satu sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan. Ia menyebutkan bahwa sejumlah data penerima bantuan pangan yang bersumber dari Bulog diduga telah diganti dengan nama penerima baru. Bahkan, beredar kabar bahwa penerima pengganti tersebut memiliki hubungan keluarga dengan oknum lurah setempat.
Dugaan ini pun memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat. Warga mempertanyakan mekanisme pergantian data penerima bantuan yang seharusnya mengacu pada data resmi serta melalui proses verifikasi yang ketat, mengingat bantuan pangan tersebut diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu dan rentan.
Salah seorang warga Lingkungan Ballo 1, Halimah Daeng Taco, mengaku kecewa atas kejadian tersebut. Ia mengatakan namanya sebelumnya telah terdata sebagai penerima bantuan dan bahkan sudah memiliki barcode resmi. Namun, saat penyaluran berlangsung, namanya tiba-tiba tidak lagi tercantum.
“Data saya sudah ada dan barcode penerima juga sudah terbit, tapi tiba-tiba diganti tanpa penjelasan yang jelas,” ungkapnya.
Menurut Halimah, kejadian ini menimbulkan keresahan di tengah masyarakat dan berpotensi menurunkan kepercayaan warga terhadap pemerintah kelurahan. Ia berharap pihak terkait segera turun tangan untuk memberikan klarifikasi dan memastikan penyaluran bantuan berjalan adil dan tepat sasaran.
Menanggapi hal tersebut, Camat Pattalassang, Bansuhari Said, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp mengaku terkejut dengan informasi yang beredar.
“Astagfirullah, kenapa bisa begitu. Insya Allah hari Senin saya akan memanggil lurahnya ke kantor untuk dimintai penjelasan,” ujarnya singkat.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Kelurahan Sombalabella belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pergantian data penerima bantuan pangan tersebut. Warga pun berharap adanya transparansi dan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.(*)











