MALANG-Banyak sentra industri di Indonesia, begitu juga di Kabupaten Malang. Air limbah industri dibuang begitu saja ke sungai sehingga menyebabkan pencemaran sungai. Air limbah industri mengandung logam berat yang berbahaya untuk ekosistem di sekitarnya.
Sungai yang keruh akibat pencemaran dapat dijumpai di kawasan padat penduduk. Contohnya kawasan industri daur ulang plastik di desa Sumber Ngepoh, Kecamatan Lawang dan kawasan industri penyamakan kulit di Kecamatan Kedungkandang, Kelurahan Mergono, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Di sisi lain, jamur tiram diketahui memiliki potensi sebagai Bio-adsorben terhadap limbah yang mengandung logam berat. Terlebih, di Kabupaten Malang terdapat sentra budidaya jamur tiram (Pleorotus ostreatus). Jika dihitung secara keseluruhan kurang lebih terdapat 5 ton/hari jamur tiram segar yang diproduksi di Kabupaten Malang.
Namun, produksi yang melimpah juga menghasilkan limbah yang belum termanfaatkan diantaranya, bonggol jamur dan jamur yang rusak/tidak layak jual. Oleh karena itu, siswi MTsN 3 Malang memanfaatkan limbah jamur tiram untuk mengatasi permasalahan pencemaran sungai akibat limbah industri kimia yang mengandung logam berat.
Limbah jamur tiram yang telah di dapatkan dari budidaya jamur di Kabupaten Malang dicuci, kemudian di oven selama satu hari (overnight), lalu diserbukkan. Disiapkan larutan standar logam berat Pb dengan melarutkan 1gr dari logam murni Pb ke dalam 1L air destilasi (1000ppm) sebagai larutan induk.
Selanjutnya dilakukan pengenceran terhadap larutan induk sehingga menjadi beberapa konstrentasi larutan standar logam yakni 10ppm, 30ppm, dan 60ppm. Pengujian dilakukan dengan cara menambahkan 10gr serbuk jamur tiram ke dalam masing masing larutan standar logam. Lalu dilakukan analisa kandungan residu logam berat dalam larutan menggunakan metode AAS, 24 jam setelah pemberian serbuk jamur tiram.
Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan standar logam berat dengan variasi ppm yang lebih tinggi, disamping itupula variasi gram pemberian jamur Pleoratus osreatus juga dapat ditingkatkan. Penelitian ini dapat menjadi dasar untuk pembuatan bioadsorben alami untuk menangani permasalahan logam berat yang lain, seperti Fe, Zn, Mn, Cd dan logam berat lain yang berpotensi merusak lingkungan.
(Rin/Deni Ainur Rokhim).











