BeritaDaerah

Kado Indonesia untuk Dunia

×

Kado Indonesia untuk Dunia

Sebarkan artikel ini

SEKILAS INDONESIA, ARTIKEL – Kita kerap beranggapan bahwa “setiap yang asli, yang pertama ada, yang awal, adalah selalu yang terbaik”. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar. Mari kita ambil contoh.

Di Pandeglang, ada sebuah rumah makan terkenal. Terkenal karena sajiannya enak, dengan menu unggulan cumi bakar. Rumah Makan Ibu Entin namanya. Lokasinya di Labuan.

Click Here

Tempatnya tidak terlalu besar. Pinggir jalan raya, dan tersedia lahan parkir yang tidak terlalu luas. Saat jam makan, kendaraan parkir hingga ke bahu jalan. Lumayan repot untuk mencari lokasi parkir yang nyaman.

Pemilik rumah makan melakukan inovasi, dengan cara membuka cabang di Kota Serang. Sajiannya sama. Lokasinya luas, bangunannya lebih lega dan resik. Kini, kalau mau cumi bakar, daripada ke Labuan, lebih memilih ke Serang.

Contoh lain. Binuangeun terkenal sebagai daerah penghasil ikan. Warga setempat mengolahnya menjadi baso ikan. Diolah secara sederhana dan tradisional. Dari mulut ke mulut, Binuangeun selain dikenal sebagai penghasil ikan, juga baso ikannya.

Muncul inovasi untuk mengolah ikan menjadi baso ikan secara lebih serius. Adalah Ceu Bai yang warga Malingping. Dia mengolah dan memproduksinya dengan sentuhan marketing; menyertainya dengan melabelinya dengan brand.

Baso Ikan Ceu Bai Malingping yang notabene berbahan dasar ikan dari Binuangeun, kini lebih populer dan banyak dicari orang, dibanding baso ikan asli Binuangeun. Popularitasnya bahkan menembus lintas kecamatan, kabupaten, bahkan provinsi.

Contoh lain. Kampus Untirta Serang itu lahirnya di Pakupatan. Perguruan tinggi negeri di Banten ini mulanya adalah milik yayasan atau swasta. Kemudian beralih menjadi negeri. Untirta menjadi kampus favorit masyarakat Banten.

Dalam perjalanannya, pemerintah melakukan pengembangan, dengan membangun kampus baru di wilayah Sindangsari Serang. Lokasi lebih luas, fasilitas lebih lengkap, suasananya lebih nyaman. Kini, kampus baru ini menjadi ikon perguruan tinggi di tatar Banten.

Di Banten, ada pondok pesantren terbesar. Namanya Daar el Qolam. Lokasinya di Gintung Tangerang. Mulanya, hanya terdiri dari satuan pendidikan tingkat MTs dan Aliyah. Banyak warga menitipkan anaknya untuk dididik di pondok pesantren ini. Lalu dikenal dengan istilah Gintung Satu.

Pengelola pondok melakukan terobosan, dengan membuat satuan pendidikan SMP dan SMA. Visinya sama. Lembaga baru ini dilengkapi dengan fasilitas yang sangat bagus. Wali santri banyak yang lebih memilih pondok ini untuk menitipkan anaknya. Dikenal dengan nama Gintung Dua.

Contoh lain. Ford merupakan merk mobil terkenal dari Amerika. Perusahaan ini didirikan oleh Henry Ford pada tahun 1903 di Michigan. Mulanya, Ford memproduksi kendaraan komersil kelas bawah. Produksi Ford menyebar ke berbagai negara bagian.

Ford kemudian mengembangkan sayap ke berbagai negara. Diantaranya Brasil. Di pabrik ini, diproduksi model Ford untuk pangsa pasar menengah keatas. Jaguar dan Land Rover di Inggris, serta Volvo di Swedia sempat diakuisisi oleh Ford.

Itulah sebagian dari beberapa contoh yang membuktikan bahwa “tidak setiap yang asli, yang pertama, dan atau yang muncul lebih awal selalu lebih baik”. Adagium ini bukan hanya pada bidang kuliner, pendidikan, atau otomotif saja, seperti yang telah dijelaskan diatas. Juga pada hal lain. Termasuk agama!

Islam lahir di Arab. Saya yakin, Allah SWT mempunyai alasan, mengapa Islam tidak diturunkan di tempat lain. Misalnya di Eropa, Afrika, Amerika, Australia, atau di Nusantara. Alasan yang kita sudah mafhum; karena peradaban jahiliyah yang tidak beradab. Biadab!

Islam datang dengan damai. Ia turun sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam. Yang biadab didekati dengan wajah damai. Semula sembunyi, lalu terbuka. Kadang lembut kadang tegas. Ia kemudian diterima berbagai kalangan.

Islam kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia. Termasuk ke Nusantara. Ia datang dengan damai, santun, yang ditunjukkan oleh sikap dan perilaku para pembawa dan penyebarnya. Salah satunya dengan cara akulturasi budaya.

Tapi karena persoalan kekuasaan atau politik, Islam yang tadinya datang dengan damai, berubah menjadi beringas. Perlu ditegaskan disini. Yang berubah bukan ajarannya, tetapi sebagian pemeluknya. Dalam hal ini adalah kejadian kudeta kepemimpinan pasca kepemimpinan nabi.

Selama kepemimpinan Umar, Usman, dan Ali, kaum muslimin tidak lepas dari konflik kepemimpinan yang tak lekang dari tindakan kekerasan. Beberapa diantaranya berakhir karena dibunuh. Politik mengubah wajah Islam yang damai menjadi kembali biadab.

Segolongan orang tidak sepakat atas cara penyelesaian konflik antara kelompok Ali dan Muawiyah yang dilakukan dengan cara musyawarah. Mereka menilai, cara itu tidak sesuai dengan petunjuk dari Allah. Wa man la yahkum bima anzalallah, maka kafir!

Golongan ini yang kemudian dikenal dengan nama Khawarij melakukan tindakan kekerasan dalam setiap menghadapi persoalan. Beda, bantai! Melawan, lenyapkan! Tragedi kemanusiaan kerap mewarnai perjalanan Islam di tanahnya sendiri.

Islam yang semula adalah ajaran tauhid, akhlak mulia, cahaya petunjuk, penebar damai, berubah wajah di tangan orang-orang Khawarij menjadi ajaran yang mengerikan. Sekali lagi, bukan ajarannya yang berubah, tetapi aksi atas tafsir ajaran.

Wajah Islam yang beringas di tangan Khawarij, kemudian mendapat reaksi yang tak kalah beringasnya dari kelompok lain. Kelompok dan faham yang muncul setelahnya, juga tidak kalah beringasnya. Aksi dan reaksi muncul bertubi. Dan itu terjadi hingga sekarang!

Adalah tak aneh bila kemudian muncul stigma pada masyarakat dunia bahwa Islam di Timur Tengah itu, tepatnya di Arab itu adalah Islam yang keras, intoleran, anti perbedaaan. Stigma negatif atas ajaran agama yang lahir dan muncul di kampung asalnya.

Pada celah itulah, Islam yang datang dan berkembang di Nusantara dengan damai yang dilakukan dengan cara akulturasi budaya, membentuk wajah Islam yang damai di negeri ini. Tauhid dan akhlak dibawa dan diterapkan, dengan mengakomodasi budaya yang telah lama tumbuh di negeri ini.

Walau bukan lahir di tanah asalnya, walau bukan muncul yang pertama, Islam model Nusantara itu sepanggang-seperloyangan dengan Rumah Makan Entin Serang, Baso Ceu Bai Malingping, Kampus Untirta Sindangsari, Gintung Dua, Jaguar dan Land Rover; bahwa “yang terbaik itu tidak mesti produk pertama dan lahir di kampung halamannya”.

Analogi yang kejauhan? Lha, wong namanya juga analogi, yang adalah cara seseorang untuk mendekatkan yang terasa jauh, hehe..

 

(Usep).

Oleh : Ocit Abdurrosyid Siddiq

(Penulis adalah warga biasa)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Sekilas Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan Membaca

%d